The
Moon That Embraces the Sun 7
Yeon Ify
mengantar Nok Young dan Jansil Via pergi. Yeon Ify kecewa karena tidak
diijinkan ikut oleh Nok Young. Nok Young menutup kembali kepala Yeon Ify dengan
jangot dan minta Yeon Ify segera kembali ke rumah, jangan melakukan kontak
dengan orang asing. Yeon Ify ingin tahu apa akan ada tamu yang datang, tapi Nok
Young minta Yeon Ify tidak memikirkan-nya.
***
Pangeran Yang Myung Iel ada di sebuah kapal
yang merapat ke dermaga. P. Yang Myung Iel heran kenapa ada banyak orang
disini. Seorang pria menjawab, “kalau Raja akan mengunjungi desa hari ini.”
Pangeran Yang Myung Iel tertegun dan
berpikir apa Yeon Ify ingin Yang Myung Iel bertemu Raja.
Yeon Ify minta Nok Young menyampaikan
salamnya pada Pendeta Hye Gak. Nok Young minta Seol Zahra segera mengantar Yeon
Ify pulang.
Seol Zahra kesal, “ya ampun, aku lelah
mendengar hal yang sama lagi. Kalau kau tidak mempercayaiku, kenapa tidak
mengajakku dan membiarkan Jan sil Via disini?”
“Dibandingkan kau yang keras kepala,
mulutnya (Jan sil Via) lebih berbahaya, jadi aku membawanya. Tidak perlu saling
iri.”
Nok Young pergi bersama Jan Sil Via.
Seol Zahra dan Yeon Ify jalan pulang. Seol Zahra berkata kalau orang yang
cerewet sudah tidak ada lagi (maksudnya Nok Young) dan mengajak Yeon Ify
mencari makanan sebelum pulang.
Seorang pria menjual tempat di
Uimakche (Tenda yang didirikan disepanjang jalan dengan ijin.) untuk melihat
wajah Yang Mulia Raja lebih jelas lagi. Yeon Ify ingin sekali melihat Raja,
tapi Seol Zahra jelas menolaknya. Seol Zahra tidak peduli meskipun Yeon Ify
sengaja menunjukkan wajah memohon.
***
Pangeran Yang Myung Iel meraih selebaran koran
dengan berita paling update, Berita
hangat! Yang Mulia telah mendekati gerbang desa! Rombongan Raja mendekati desa
dan Rio minta tirainya diangkat sedikit. Kasim Hyung sun keberatan karena
udaranya sangat dingin.
“Aku bilang angkat tirainya.” Raja
tahu banyak orang ingin melihatnya meskipun cuma sekilas. “Bagaimana aku bisa
membuat mereka kecewa?” Hyung sun mengerti dan menyarankan Raja untuk tersenyum
sedikit.
Rio berkata kalau kecantikan alami
tidak bisa ditutupi, “Apa kau pikir gampang menemukan Raja setampan aku ?”
Hyung sun mengerenyit dan Alvin tersenyum geli. Raja minta rombongan segera
berangkat.
***
Seol Zahra tidak
berdaya dan akhirnya mengijinkan Yeon Ify melihat sebentar, “hanya satu menit.”
Yeon Ify setuju. Mereka melihat
penjaga yang memilih-milih rakyat yang boleh mendekat melihat Raja. Penjaga
menolak seorang ibu dan anaknya yang terlihat miskin. Yeon Ify langsung ikut
campur dan berkata kalau penjaga itu sangat kasar. Penjaga itu marah, “apa?”
Yeon Ify menjawab, “Apa orang miskin
dan dari kelas rendah tidak punya hak melihat Yang Mulia Raja? Apa ada hukum
seperti itu?”
Penjaga itu marah, “kau siapa?”
Yeon Ify berkata kalau dia seorang
peramal. Penjaga itu semakin marah, “peramal rendahan, beraninya kau melihat
langsung ke mataku.” Penjaga itu ingin memukul Yeon Ify tapi Seol Zahra
langsung menahan tangannya, “Sebelum aku memotong tangan ini..turunkan cepat!”
Penjaga itu bingung melihat Seol Zahra,
“apa kau pacarnya? Tapi kau seperti wanita.” (Soalnya Seol mengenakan busana
pria.)
“Kenapa? apa karena ada peramal di sampingmu
maka kau merasa percaya diri?” Tanya penjaga.
Yeon Ify tiba-tiba berkata ke penjaga
itu, “Apa kau ingin mendengar kenapa istrimu melarikan diri dari rumah?”
Penjaga itu terkejut, “apa?”
Yeon Ify melanjutkan ‘penglihatan-nya’,
itu karena penjaga itu memukuli istrinya, “kau mabuk-mabukkan, lalu pulang ke
rumah dan memukuli istrimu. Kau pantas mendapatkannya, saat istrimu lari dengan
pria yang lebih muda.”
Penjaga itu syok. Penjaga lain justru
heran, “bukankah katanya istrimu pulang ke rumah orang tuanya?” Penjaga pertama
jadi marah dan ingin memukul Yeon Ify.
***
P. Yang Myung Iel
membuat keributan dan berhasil membuat penjaga itu mengejarnya. Yeon Ify
mengangkat tali pembatas dan membiarkan orang-orang lewat. Seol Zahra marah ke
Yeon Ify, “Agassi! kenapa kau menunjukkan identitas peramalmu lagi? Bukankah
guru melarangmu seperti itu?”
Yeon Ify berkata ia hanya melakukan
apa yang biasa dilakukan peramal. Seol Zahra kesal, karena Yeon Ify bahkan
tidak punya kekuatan sebagai peramal... Seol Zahra heran, kalau Yeon Ify tidak
bisa meramal, “bagaimana kau tahu kalau istrinya lari dengan pria lain?”
Yeon Ify atau Detektif Yeon Ify
menjawab, “Di siang hari bolong seperti ini, mulutnya bau alkohol menyengat.
Hidungnya merah karena mabuk. Ia pasti pemabuk dan alkoholik.”
Seol mengangguk, “Ah...”
“Dia bersikap sangat agresif bahkan
untuk masalah kecil dan melihat kekejaman-nya pada wanita, kau bisa menebak
kalau ia pemabuk yang kasar. Dan aku yakin dia tidak berbeda saat di rumah.”
“Tapi kau tidak bisa berkata kalau
istrinya lari dari rumah.”
“Tubuhnya mengatakan kalau tidak ada
wanita yang merawatnya di rumah. Bajunya penuh lubang, besar lagi dan tidak
dijahit. Dan yang paling penting, saat ia melihat pria muda yang tampan, dia
tampaknya sangat marah.”
Seol Zahra terkejut, “seorang pria?
maksudnya aku?”
Yeon Ify menjawab, “Jadi aku yakin
istrinya lari dengan pria muda.”
“Tentang perut dan ususnya
tadi..bagaimana kau tahu?”
“Jelas kalau dia alkoholik, mulutnya
berbau, jadi pasti ada yang tidak beres dengan ususnya.”
“Kau hebat sekali..kau tinggal
menggelar tikar dan menjalankan bisnis peramal.” Yeon Ify melihat P. Yang Myung
Iel, ia geli dan tersenyum. Para penjaga melepas Yang Myung Iel karena
rombongan Raja hampir tiba. Rombongan Raja mendekat dan semua menyembah dengan
muka ke tanah. Seol Zahra memaksa Yeon Ify
membungkuk. Pangeran Yang Myung Iel juga membungkuk.
Tiba-tiba kupu-kupu kuning itu muncul
lagi dan terbang di dekat Yeon Ify. Bagaikan terhipnotis, Yeon Ify berdiri melihat
arah kupu-kupu kuning terbang. Pangeran Yang Myung Iel juga mengangkat wajah
melihat ke arah Rio dan tersenyum.
Yang Myung Iel melihat Yeon Ify. Seol Zahra
panik dan terus minta Yeon Ify berlutut, tapi terlambat.. Yeon Ify melihat
Raja. Tanpa alasan, Yeon Ify diliputi rasa sedih yang dalam. Ia menangis
tiba-tiba. Yang Myung-gun melihatnya dan tampak heran. Raja juga menoleh ke
arah Yeon Ify. Tapi Seol Zahra dengan cepat menariknya lari.
Penjaga segera mengejar mereka. Yang
Myung-gun ikut mengejar.
Raja tanya ada apa dan Kasim Hyung Sun
lapor, “ada seorang gadis yang menolak membungkuk lalu lari.”
“Seorang gadis?” Hyung Sun berkata
akan menutup tirai tandu, karena sepertinya agak berbahaya.
***
Seol Zahra
menarik tangan Yeon Ify dan lari dengan cepat. Yeon Ify tiba-tiba ingat
sesuatu, saat Putra Mahkota Rio menarik tangannya dan lari. Yeon Ify bingung.
Seol berhasil menemukan tempat sembunyi dan keduanya sembunyi sebentar. Yang
Myung-gun dan penjaga lari melewati mereka. Seol Zahra marah pada Yeon Ify.
Tapi Yeon Ify seperti syok, “Seol..”
“Apa?”
Yeon Ify ingin tahu apa mereka pernah
melarikan diri seperti ini. Seol Zahra masih kesal, “kalau kejadian seperti ini
terulang, memangnya kita akan tetap hidup?”
“Lalu ingatan siapa itu?”
***
Yang Myung-gun
mencari Yeon Ify kemana-mana, tapi kehilangan gadis itu. Yang Myung Iel sampai
salah mengira seorang gadis sebagai Yeon Ify dan gadis itu tentu saja terpesona
dengan Yang Myung-gun. Yang Myung-gun harus meyakinkan diri sendiri kalau Yeon Ify
sudah meninggal.
***
Raja tiba di
istana peristirahatan dan berendam di bak mandi rempah. Raja tampak tidak
semangat. Hyung Sun tanya apa suhu airnya tidak cocok, atau aroma rempahnya
yang tidak cocok.
“Ini menjengkelkan.”
Hyung Sun bingung apa lagi kali ini.
Raja mengeluh, “kemana-mana aku hanya melihat kain satin, sutra, semua bersih
dan berpakaian rapi. Kau tidak bisa melihat orang miskin. Bahkan anjing yang lewat
juga terlihat bersih. Benar-benar negeri yang damai, dan penuh kesejahteraan. Aku
benar-benar Raja yang hebat. “
“Apa kau pikir aku datang jauh-jauh ke
Won Yang hanya untuk melihat kemakmuran?” Tanya Raja.
“Yang Mulia..anda kesini untuk
kesehatan. Anda seharusnya melupakan apa yang anda lihat...”
“Alvin.”
“Silahkan perintah anda Yang Mulia.”
Jawab Alvin
“Aku merasa lebih enak setelah mandi air panas. Kau pasti lelah setelah jalan jauh, kenapa kau tidak bergabung saja disini?” whoa...Kasim dan para dayang syok hahaha Hyung sun langsung minta dayang dan pelayan keluar dengan alasan mengambil ginseng.
“Aku merasa lebih enak setelah mandi air panas. Kau pasti lelah setelah jalan jauh, kenapa kau tidak bergabung saja disini?” whoa...Kasim dan para dayang syok hahaha Hyung sun langsung minta dayang dan pelayan keluar dengan alasan mengambil ginseng.
Hyun Sun mengeluh, “Chon Na, ada
banyak rumor yang beredar di istana kenapa anda bercanda seperti ini?”
Raja semakin menggoda Hyung Sun, “gosip
apa?” Hyung Sun berkata karena Raja terus saja menghindari Ratu maka ada gosip
kalau Raja adalah pria yang menyukai... Hyung Sun sulit mengatakannya, lalu
susah payah mengatakan..”pria.”
Raja berkata, “Kalau aku pria yang
menyukai pria.” Hyung Sun memohon, “jadi saya mohon jangan bercanda dengan Alvin
seperti ini lagi.”
Raja sekalian tanya, “mungkin...Hyung
Sun-ah apa kau mau bergabung denganku dalam bak?” Hyung Sun ketakutan, ia
melindungi dadanya...........dan lari ngibrit keluar. Raja nyengir, “Alvin..akhirnya
tinggal kita berdua.”
Alvin menoleh ke arah Raja, tampaknya
mereka sudah merencanakan ini. Hyung Sun mencoba mendengar dari balik pintu,
tapi tidak terdengar apapun. Hyung Sun kebingungan, “ini tidak mungkin! tidak
mungkin! Setelah bertahun-tahun melayani Yang Mulia, apa Yang Mulia telah
berubah ‘ketertarikan-nya’?” Hyung Sun langsung menghalau pikirannya sendiri,
tapi mengeluh kenapa jantungnya berdebar-debar dan kakinya gemetaran.
“Kenapa aku seperti ini?” Hyung Sun
mencoba mendengar lagi dan Yang Myung Iel-gun muncul, ia heran melihat tingkah
laku Hyung Sun.
“Kenapa kau seperti anak anjing yang
kebingungan?” Tanya Yang Myung Iel. Hyung Sun gembira dan langsung membungkuk, “Yang
Myung Iel-gun!”
Hyung Sun mengumumkan kedatangan Yang
Myung Iel pada Raja tapi tidak ada sahutan. Hyung Sun memberanikan diri membuka
pintu dan syok. Karena kamar itu kosong! Raja dan Alvin menghilang. Hyung Sun
teriak-teriak panik, “Chon Na!!!!”
Raja bergidik. Alvin heran, “apa ada
sesuatu?”
Raja senyum. “Sepertinya teriakan
Hyung Sun kedengaran sampai sini.”
Keduanya mengenakan baju bangsawan dan
jalan masuk ke desa. Pemandangan yang dilihat Raja berbeda dari yang tadi,
semua penduduk desa itu sangat miskin. Ada yang meninggal dan hanya ditutupi
jerami saja di jalan, ada yang sakit parah, minta-minta uang. 100% berbeda dari
yang dilihat Raja sebelumnya. Alvin melindungi Raja dari orang yang mengemis.
Raja tampak sedih. Seorang anak
menabrak Raja. Anak itu langsung minta maaf. Raja membungkuk dan membantu anak
itu berdiri, sepertinya kau terburu-buru. “Kau mau kemana?” Anak itu ingin
membawakan sayur untuk adiknya di rumah. Raja melihat sayur yang sudah busuk
dan kering dalam baskom kayu.
Raja terharu, “Kau tidak punya orang
tua?” Anak itu berkata kalau ibunya meninggal dua tahun lalu karena wabah dan
sebulan lalu, ayahku dipaksa pergi untuk membangun rumah Boyeong. Raja tanya
siapa nama ayah anak itu.
“ Katakan saja Pi Han Do dari Yang Ji Won
Yang.” Jawab sang anak.Raja tersenyum dan janji akan mencari ayah anak itu, ia
akan melepaskannya agar bisa pulang lagi. Raja memberikan uang untuk anak itu, “jaga
adikmu baik-baik.”
Anak itu membungkuk, ia senang sekali
dan mengucapkan terima kasih. Alvin menyadari ada yang mengikuti mereka, “Yang
Mulia..ada seorang Gan-cha.” (Mata-mata.)
Raja menyeringai, “aku tahu. Mungkin
hadiah dari Menteri.” Raja memberi kode Alvin untuk lari. Alvin mengerti dan
keduanya langsung lari dengan cepat. Pria itu bingung dan kehilangan jejak.
Raja dan Alvin lari sampai hutan. Raja terengah-engah dan duduk diatas cabang
pohon. Ia ketawa ngakak.
Raja ingin tahu apa yang akan terjadi
nanti. Alvin merasa Menteri Yoon diam-diam melatih pasukan pribadi. Alvin minta
Raja segera kembali. Raja mengerti dan jalan pulang. Tiba-tiba ia berhenti dan
terkejut.
Raja melihat Yeon Ify. Yeon Ify
tersenyum pada Raja lalu jalan pergi. Raja kaget, “itu Yeon Ify..” ia segera
lari mengikuti arah kepergian Yeon Ify imajinasi.
***
Nok Young menemui
Pendeta Hye Gak. Jansil Via cuek tidur di sudut. Hye Gak berkata kalau ia sudah
mengatakan sebelumnya, mereka akan bertemu lagi.
Nok Young bertanya, “Apakah itu
sebabnya kau memanggilku saat Yang Mulia melakukan perjalanan keluar?” Hye Gak
tahu kalau penyakit Raja bukan masalah ringan. Tapi orang yang seharusnya
melindungi Raja hidup di dunia yang lain. Itulah mengapa kesehatan Yang Mulia
tidak membaik.
“Apa kau berpikir membantu mereka untuk
bersama?” Hye Gak merasa ini bukan kehendak manusia, tapi kehendak langit. “Takdir
mereka tidak akan bisa dihalangi oleh manusia. Kau juga tahu itu kan?”
“Takdir mereka sudah berakhir.”
“Tapi kenangan mereka belum.”
Nok Young ragu, “Nona sudah kehilangan
ingatan-nya.”
Hye Gak berkata kalau satu hari
ingatan Yeon Ify akan kembali dan Nok Young cemas kalau ini akan memicu
pertumpahan darah. Dia akan jatuh dalam penderitaan lagi, “bagaimana kita bisa
membiarkan ini terjadi lagi?”
***
Yeon Ify duduk termenung dan Seol Zahra heran,
apa yang dipikirkan Yeon Ify. Yeon Ify berkata ia sekarang mengerti, milik
siapa kenangan-kenangan itu. “Kau mengerti maksudku?”
Seol Zahra masih tidak mengerti. Yeon Ify
berkata kalau ia bahkan bisa mendapat penglihatan sekarang.
“Aku benar-benar seorang peramal.” Yeon Ify jalan keluar, ia ingin menunggu Nok Young.
“Aku benar-benar seorang peramal.” Yeon Ify jalan keluar, ia ingin menunggu Nok Young.
Seol Zahra mengikutinya.
***
Raja dan Alvin
tersesat di tengah hutan berkabut. Raja tahu mereka jalan berputar-putar saja sejak
tadi. Alvin minta maaf, tapi Raja merasa itu salahnya karena lari begitu saja.
Mereka melihat sinar dari jauh dan Raja tertegun saat melihat Yeon Ify kecil
berdiri sambil tersenyum di depannya.
Yeon Ify kecil senyum, “Saya menunggu
anda, kenapa anda baru datang sekarang?”
Raja bingung, lalu saat melihat dengan
lebih jelas, ternyata itu Yeon Ify dewasa berdiri sambil membawa lampion.
***
Yeon Ify
menghangatkan arak. Seol Zahra ingin tahu siapa mereka, ia cemas seharusnya
Yeon Ify tidak sembarangan menerima tamu. “Bukankah Gukmu sudah memperingatkan
Nona?”
“Tapi dia tidak pernah berkata kalau
aku tidak boleh membantu orang yang perlu bantuan.”
Yeon Ify masuk dan menghidangkan arak
hangat untuk Raja dan Alvin. Yeon Ify berharap arak ini bisa mengusir rasa
dingin dan ia juga minta maaf karena hanya menyediakan sedikit makanan. Selama
itu Raja terus saja memandangi Yeon Ify. Ia ingin tahu siapa pemilik meja ini. “Apa
kau menunggu seseorang di dalam hujan?”
“Saya menunggu
ibu angkat saya.” Yeon Ify permisi pergi.
Tapi Raja heran, “kau seorang peramal
kan? kenapa punya banyak buku, untuk apa semua buku itu.” Yeon Ify mengaku
membaca buku-buku Kong Hu Cu untuk mengerti cara-cara dunia. Itu alasannya.
Yeon Ify berujar, “Saya tidak membaca
hanya untuk keuntungan pribadi, tapi untuk membantu orang lain. Lagipula
setelah membaca kata-kata dari masa lalu, kita bisa merasa gembira karena
mengerti arti di dalamnya. Jadi, saya tidak bisa berhenti membaca.”
Yeon Ify mengatakan kalimat dalam
Analek Kong Hu Cu dan itu membuat Raja syok. Ia ingat Yeon Ify remaja yang
mengatakan hal sama. Raja menatap tajam Yeon Ify, dan berkata dalam hati, ini tidak mungkin..ia sudah meninggal.
Wanita ini hanya mirip dengannya.
Yeon Ify bingung, “ada apa?” Raja
terus saja meyakinkan diri kalau ini mimpi, ini ilusi. Raja lalu minum araknya.
Yeon Ify minta Alvin minum. Raja menyuruh Alvin minum. Tapi Alvin menolak
minum.
Yeon Ify menegur Alvin, “Kau tidak
menjalankan tugas. Kau tidak mengenalku dan kau tidak tahu apa yang ada dalam
arak ini. Bagaimana kau bisa tidak mencicipinya? Apa kau hanya menggunakan
pedang ini untuk melindunginya?” (Sudah tugas pengawal untuk mencicipi minuman
atau makanan Raja. Siapa tahu minuman itu beracun.) Alvin terkejut dan segera
meraih gagang pedangnya.
Raja langsung menarik Yeon Ify, “bagaimana
kau tahu?!”
Yeon Ify balik bertanya, “Apa maksud
anda?”
“Bagaimana kau tahu kalau aku adalah
Raja Joseon?”
***
Yang Myung Iel-gun
menunggu Raja kembali sambil tiduran di kamar tamu. Ia mengingat wajah Raja dan
juga Yeon Ify dewasa yang menangis memandang Raja. Yang Myung Iel-gun menahan
tangis, “rohmu tetap di dunia ini. Apa kau ingin bertemu Yang Mulia? Meskipun
kau tidak ingin menemuiku, aku tetap sangat bahagia. Kumohon, carilah aku di
kehidupan mendatang.”
***
Raja menatap
tajam Yeon Ify dan menuntut penjelasan. Yeon Ify berkata ia hanya peramal
biasa, mana mungkin bisa bertemu Yang Mulia.
Raja teriak, “jangan bohong padaku!”
Yeon Ify mengaku kalau dia adalah gadis yang membuat keributan saat rombongan
Raja lewat di desa, ia melihat wajah Raja tadi. Raja kecewa dan melepas tangan
Yeon Ify. Hujan sudah reda. Raja dan Alvin akan kembali. Sebelum pergi Raja
tanya siapa nama Yeon Ify.
Yeon Ify minta maaf, ia tidak memiliki
nama. Raja tidak percaya, “meskipun kau seorang peramal, bagaimana mungkin
tidak punya nama.” Yeon Ify hanya berkata kalau ia sering dipanggil Agi.
(Singkatan dari Agassi, Nona)
“Karena kau tidak ingin terikat
takdir, kau tidak diberi nama. Pertemuan singkat ini bisa dianggap sebagai
takdir.” Raja melihat ke langit, bulan begitu cantik.
Raja berkata ia ingin memberi nama Yeon
Ify : Alyssa (Bulan). Yeon Ify juga merasa nama itu indah, Alyssa. “Sekarang
aku punya nama..”
***
Raja dan Alvin
kembali. Hyung Sun tergopoh-gopoh menyambutnya. “Yang Mulia, kenapa anda
melakukan ini? Apa anda ingin melihat saya..”
Raja memotong, “aku tidak ingin
dengar.”
Hyung Sun memarahi Alvin, tapi Raja
berkata kalau Alvin melindunginya dengan sangat baik. Lalu ia melihat Yang
Myung Iel-gun. Yang Myung Iel-gun mendekat dan menghormat, “Yang Mulia..apa
anda sehat-sehat saja selama ini?”
“Apa yang kau lakukan disini? Kau
muncul tiba-tiba setelah bertahun-tahun. Apa kau tidak mau mengangkat wajah dan
memandangku?”
Yang Myung Iel-gun mengangkat wajah
dan memandang Raja. Raja komen, “kau tetap setampan dulu”. Lalu ia tersenyum.
Semua tersenyum lega. Raja mengajak Yang Myung Iel-gun minum di dalam.
Sementara Alvin duduk bagai patung di sudut.
Yang Myung Iel mengajak Alvin
bergabung untuk minum. Tapi Alvin hanya tersenyum. Yang Myung Iel-gun mengeluh,
“kalau sedang tugas dia tidak mau minum alkohol.”
Raja menantang, “mau taruhan?
taruhannya, orang yang berhasil membuat Alvin minum, semua keinginan-nya akan
terpenuhi.” Yang Myung Iel setuju.
Yang Myung Iel berkata ke Alvin, “Kau dengar itu? Ini bukan waktu
berpikir, setelah aku menerima emas dan harta karun dari Yang Mulia. Aku akan
memberikan setengah untukmu.” Alvin hanya tersenyum dan menolak.
Yang Myung Iel menghela nafas. “Lihat
itu..dia sama sekali tidak menyenangkan.”
Giliran Raja. Ia memanggil, “Alvin-ah.”.
Alvin langsung respon, “berikan
perintah Anda.”
“Sini dan minumlah. Ini perintah
Kerajaan.” Mana mungkin Alvin menolak perintah Raja. Dengan patuh Alvin
mendekat, menerima arak dari Raja dan meminum-nya. Yang Myung Iel-gun terpesona
melihatnya.
“Hyungnim...?”
Yang Myung Iel mengaku kalah. “Sebagai
gantinya, anda bisa meminta apapun.”
Raja minum dan berubah serius, “bahkan
sampai sekarang kau masih memikirkan anak itu?” Yang Myung Iel tertegun, tapi
ia harus menjawab. Karena ia kalah taruhan.
Yang Myung Iel-gun menjawab, “Saya memikirkannya di dalam hati.
Dia sudah meninggal. Kalau saya mengatakan akan melupakannya, saya
mengingatnya. Dan saat saya ingin mengingat, saya dengan cepat melupakannya.
Ini adalah hati manusia. Saya tidak ingin melupakan, tapi saya lebih tidak
ingin mengingat. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengingat..kalau ia tidak ada
lagi di dunia ini. Memilih untuk mengingat kalau ia tidak ada lagi di dunia
ini.” Raja dan Yang Myung Iel-gun tampak sedih.
Bahkan Alvin juga.
Raja kembali ke ibukota dan membaca semua
laporan, ia tersenyum, “Selama aku tidak di istana, para menteri telah bekerja
dengan keras.” Menteri Perpajakan 'dipuji' Raja. Dan dengan bebal Menteri Pajak
berkata kalau ia ingin mengurangi beban Raja. Para petugas sampai tidak tidur
hanya untuk mengurus masalah politik.
“Bagus sekali.” Lalu Raja menyinggung
pembangunan Kediaman Boyeong dan berkata kalau itu menyiksa rakyat. Raja tidak
mengerti kenapa harus dibangun terburu-buru seperti itu. Menteri berkata kalau
Paviliun itu adalah kesayangan Ibu Suri, mereka harus mempercepatnya agar
selesai tepat saat Ultah Ibu Suri tahun depan.
Raja menyindir, “Ah...jadi kado ulang
tahun lebih menekan daripada hidup dan mati rakyat kecil.”
Semua Menteri mulai tampak resah. Yoon
Dae Hyung beragumen, “kalau masalah ini sudah disetujui oleh Raja.”
Raja membenarkan, memang ia sudah
memberi ijin. “Tapi..aku tidak memintamu memaksa rakyat kerja tanpa bayaran di
musim dingin yang parah ini! Para ayah harus memelihara anak-anak mereka yang
kelaparan justru dipaksa kesini.” Raja membentak, “apa aku memerintahkan itu?”
Menteri-menteri menjawab, “Tapi Yang
Mulia...”
Raja marah, “ukuran proyeknya terlalu
besar dan tenaga kerjanya...Apa kalian tahu yang membuatku heran, kenapa
memakai batubara sebanyak ini? Ada banyak orang dipaksa menjadi buruh, tapi
kemana mereka pergi?”
“Sebelum meninggalkan balairung ini,
tulis semua nama pekerja konstruksi, jadwal proyek dan detil anggaran-nya! Lalu
bawa semuanya padaku. Aku akan memeriksa catatan itu besok pagi.” Lanjut Raja.
Semua Menteri tampak bingung.
***
Malamnya, Seorang
wanita dengan jangot menutupi kepala mendekati Yoon. “Apa Tuan mencari saya?”
wanita itu Kepala Peramal lama.
“Sudah berapa lama wanita itu
mengambil alih posisi Jang Nok Young sebagai kepala Seongsucheong. Wanita itu
berkata hampir 8 tahun.” Yoon kesal, ia ingin mengganti wanita itu karena
tampaknya tidak peduli dengan kesehatan Raja.
Yoon mengeluh, “Raja ini mengesalkan.
Saat ia seharusnya sehat, ia justru sakit. Saat seharusnya sakit, ia justru
sehat.”
Wanita itu berkata sudah memasang
jimat di Daejeon saat Raja pergi dan Yoon tinggal memerintahnya saja. “Setelah
itu, anda dan saya akan melihat hasilnya.”
Yoon minta wanita itu membuat Raja
sakit besok pagi, sehingga Raja tidak akan memeriksa laporan keuangan mereka.
Raja duduk sendiri di kamar dan memikirkan Alyssa (Sekarang nama Yeon Ify resmi
jadi Alyssa). Hyung Sun masuk dan lapor kalau Ratu ingin menghadap Raja. Raja
menolaknya. “Aku sudah memerintah agar tidak mengijinkan seorangpun masuk ke
dalam! Apa kau sudah lupa?” Hyung Sun berlutut memohon, “Chon Na, saya mohon.”
Bahkan para dayang dan kasim juga
memohon. Agar Ratu diijinkan masuk. Raja menyerah dan memberikan ijin. Ratu
Yoon masuk, ia memberi hormat dan tanya kesehatan Raja. Ratu senyum semanis
mungkin.
Raja tersenyum, “Kau lihat sendiri,
aku sehat sekali. Apa yang begitu penting sampai Ratu harus datang malam-malam
kesini?” Hyung Sun bahagia dengan suasana akrab diantara Raja dan Ratu, ia
langsung keluar. Setelah Hyung sun keluar, suasana berubah. Ratu langsung pasang
wajah siap menderita. “Saya minta Yang
Mulia meninggalkan keturunan. Anda adalah penguasa dan tanpa kekuatan penerus,
anda hanya menara di tengah padang gurun. Anda harus meninggalkan keturunan
Raja untuk meneruskan warisan anda.”
Raja tetap tersenyum, “Ratuku..”
“Saya tidak bisa menghadap Ibu Suri
lagi, tidak masalah meskipun itu dari seorang Selir. Saya mohon ambillah Selir untuk
mendapatkan keturunan Raja.”
“Apa kau tulus?” Tanya Raja.
“Sebagai Ratu negeri ini, bagaimana
saya bisa mementingkan perasaan pribadi?”
“Benar..sekarang aku tahu mengapa kau
begitu disayangi banyak orang. Aku tidak tahu kalau kau berpandangan jauh ke
depan. Sampai sekarang, kau pasti menderita karenaku. Baiklah, kita lakukan
sesuai keinginan Ratu. Besok pagi bersama para petugas, aku akan membahas
masalah pengangkatan Selir.”
Ratu Yoon terkejut, “Yang Mulia.”
“Aku paling benci kalau Ratu bersikap
munafik. Aku juga benci kalau kau menggunakan kata-kata bohong untuk
mendapatkan simpati. Kalau kau sudah selesai bicara, kembalilah dan istirahat.”
Ratu sakit hati dan jalan pergi, ia membelakangi Raja dan tidak tahan lagi.
Ratu tanya sampai kapan Raja akan terus mengingat wanita yang sudah meninggal
dalam hati, “tempat ini adalah tempat orang-orang yang hidup. Bagaimana
dikuasai oleh orang yang sudah meninggal? Apa Yang Mulia tidak bisa melihat
hati saya? Berapa lama? Berapa lama saya bisa berhenti menganggap orang yang
sudah meninggal sebagai saingan saya dalam cinta? Yang Mulia berapa lama,
sebelum anda bisa berpaling dan melihat saya?” Selama Ratu bicara, Raja menekan
dada dan menahan sakit. Mantra peramal itu mulai kerja dan membuat Raja
pingsan.
Ratu berbalik dan terkejut, “Yang
Mulia! Yang Mulia! Apa ada orang?” Hyung Sun masuk dan segera teriak memanggil
Tabib Istana.
***
Ratu Han
menghadap Ibu Suri dan lapor kalau untungnya tidak terjadi apapun. Ibu Suri
kesal, “bagaimana bisa terjadi hal seperti itu saat Raja dan Ratu ada di kamar
bersama.”
Ratu Han minta maaf, “bahkan Tabib
istana tidak tahu apa yang terjadi. Menurut mereka, Yang Mulia terlalu lelah.”
Ibu Suri ingin memanggil kembali Jang Nok Young.
Ratu Han heran, “bukankah
Seongsucheong telah memiliki Guk-mu Gwon?” Ibu Suri merasa Gwon masih kurang
kemampuannya. “Tidak ada yang sekuat Guk-mu Jang diseantero Joseon. Jika dia,
pasti ia akan sanggup memecahkan masalah Raja dan menghilangkan kebencian
antara Yang Mulia dan Ratu.”
***
Raja beristirahat dengan Alvin di sampingnya.
Ia ingin Alvin mencari Alyssa, “cari gadis itu untukku. Ada sesuatu di matanya
yang membuatku cemas.”
Raja merasa Alyssa
menyembunyikan sesuatu, “cari dia. Kau belum pernah melihatnya? Mereka mirip,
jika ia masih hidup, ia akan seperti dia.” (selama ini Alvin belum pernah
melihat wajah Yeon Ify, meskipun Yeon Ify beberapa kali melihat Alvin. Karena Alvin
selalu main dengan Yeom Cakka dan sesuai tata krama, Yeon Ify tidak boleh
bergabung jika ada teman kakak lelakinya datang. Itu sebabnya Yeon Ify marah
kalau P. Yang Myung Iel memanjat tembok untuk mengintipnya. Itu tidak pantas
dilakukan kaum bangsawan.)
Alvin pergi mencari Alyssa, tapi
sayang mereka sudah terburu-buru pergi. Alvin hanya menemukan batu giok kecil
yang berbentuk mirip bulan.
***
P. Min Agni panik
karena matanya bengkak. Padahal sama sekali tidak kelihatan beda.ia takut kalau
suaminya tidak lagi menyukainya dan mengusirnya. Ia tidak akan punya kesempatan
dicintai dan menggendong bayi. Putri satu ini memang masih kekanak-kanakan. Ny.
Heo masuk dan heran melihat menantunya, “mengapa anda seperti ini Putri?”
Min Agni hanya menangis sampai
cegukan. Ny. Heo menghela nafas. Ny. Heo memarahi Yeom Cakka, karena tidak
melakukan kewajiban-nya sebagai suami Min Agni.
“Apa kau tahu betapa memalukan sampai
harus mengatakan itu?” Yeom minta maaf, ia terlalu asyik membaca dan lupa.
Ibunya kesal, “kau dan ayahmu sama
saja. Apa kau sengaja menghindari istrimu?”
Yeom Cakka menjawab, “Tidak. Hanya
saja dia masih terlalu muda. Lagipula masa berkabung 3 th untuk ayah baru saja
berakhir.” (Sesuai tradisi) Ibunya mengingatkan, “Putri bukan adik perempuan
Yeom Cakka, tapi istrimu. Hormati dia sebagai istrimu.”
Ny. Heo juga berkata kalau pesan
terakhir ayah Yeom Cakka adalah mengingat kebaikan Min Agni pada keluarga
mereka. Yeom Cakka mengerti.
***
Nok Young dan
para gadis menginap di sebuah losmen kecil. Alyssa mendekati Nok Young dan
berkata tidak bisa menemukan Seol Zahra. Ia ingin mencarinya. Nok Young berkata
tidak perlu mencemaskan Seol Zahra. Ia akan segera kembali. Nok Young memanggil
Jansil Via. Nok Young menyuruh Jan Sil Via membawa Alyssa ke dalam. Tiba-tiba
ada 3 pria bangsawan menemui Nok Young. Nok Young terkejut dan langsung
menyuruh Jansil Via melakukan sebaliknya.
Jansil Via mengerti dan menarik Alyssa
pergi. Tiga pria itu adalah Moon Ji Bang, Oh Hye Seong dan Na Dae Gil.
Ketiganya Menteri di Kabinet Yoon.
Mereka susah
payah melacak Nok Young. Nok Young tanya untuk apa mereka mencarinya. Mereka
datang atas perintah Ibu Suri untuk membawa Nok Young kembali ke Seongsucheong.
Nok Young menolak, Seongsucheong sudah memiliki banyak peramal.
Tapi tiga pria itu berkata mereka
semua payah. Nok Young menolak dan berkata kalau kekuatan spiritualnya telah
menipis. Mereka tetap mendesak, tapi Nok Young sudah memutuskan menolak. Dan
berkata kalau ia akan menemui Ibu Suri sendiri untuk mengatakan jawaban-nya.
Akhirnya ketiganya pergi, mereka kesal
karena Nok Young keras kepala.
Tapi Na Dae Gil punya rencana lain. “Kita
tidak bisa pulang dengan tangan hampa.” Ia memanggil petugas tandu Alyssa
sendirian di jalan, ia menunggu Jansil Via dan ingin mencari Seol Zahra. Alyssa
bingung, kemana Seol Zahra pergi.
Seol Zahra tidak ada di pandai besi. Alyssa
meletakkan jari di pelipisnya, seperti antena. Ia ingin melacak Seol Zahra
menggunakan ‘antena magic-nya’.
Alyssa heran, “apa kekuatanku sudah
menghilang? Lalu apa yang waktu itu kulihat?” Alyssa ingat pertanyaan Raja, “apa kau pernah bertemu denganku sebelumnya?”
Alyssa menggelengkan kepala mengusir bayangan Raja dan ia jalan pergi. Alyssa
dihadang tiga tukang tandu suruhan Dae Gil. Mereka menculik Alyssa dan
memasukkan-nya ke tandu. Alyssa terkurung di dalam tandu dan dibawa ke..istana!
Alyssa panik dan berusaha membuka pintu tandu. Ia justru ingat saat Yeon Ify
ada di dalam kuburan dan berusaha keluar. Alyssa merasa sesak nafas.
****
Source : Kadorama-recaps.blogspot.com
Posted
: June 23, 2012
Edited
: August 11, 2012
No comments:
Post a Comment